Kamis, 24 Juni 2010

All About Film

Seperti halnya film cerita, film noncerita kini juga bisa dikategorikan dalam berbagai jenis. Tetapi pada awalnya film noncerita hanya dikenal punya dua jenis, yakni film faktual dan film documenter.

Film faktual

Film faktual adalah suatu jenis film noncerita yang pada umumnya menyajikan fakta. Sekarang film faktual dapat dilihat dalam bentuk film berita (news reel) dan film dokumentasi

Film berita meletakkan titik berat penyajiannya pada segi pemberitaan suatu peristiwa atau kejadian yang faktual. Contoh film berita dewasa ini dapat kita saksikan di tayangan-tayangan berita dalam siaran televise. Film berita ditayangkan setelah terlebih dulu melalui proses pengolahan.

Sedangkan film dokumentasi adalah film faktual yang hanya merekam suatu peristiwa atau kejadian tanpa melalui proses pengolahan lagi. Film dokumentasi merekam peristiwa dengan apa adanya. Contoh film dokumentasi ini misalnya dokumentasi mengenai kejadian perang, dan dokumentasi upacara kenegaraan.

Film Dokumenter

Film dokumenter adalah film noncerita yang selain mempunyai unsur fakta tetapi juga mengandung unsur subyektifitas pembuatnya. Subyektifitas di dalam film dokumenter merupakan pendapat, pandangan, sikap atau opini terhadap peristiwa yang direkam. Dengan demikian peran pembuatnya (produser/sutradara) memiliki arti penting bagi keberadaan serta keberhasilan proses pembuatan film dokumenter.

Dalam film dokumenter, faktor manusia (pembuat) mempunyai peran yang besar dan penting. Sebab persepsi tentang suatu kenyataan atau realitas yang ada sangat bergantung pada pembuatnya. Sejarah keberadaan film dokumenter diawali pada tahun 1920-an. Hal itu ditandai dengan dengan munculnya pemikiran tentang pembuatan film dokumenter tersebut.

John Grierson dari Inggris merupakan tokoh yang pertama kali memperkenalkan istilah film dokumenter. Istilah itu diperkenalkan Grierson ketika ia membicarakan atau membahas sebuah film karya Robert Flaherty (Amerika Serikat) berjudul “Moana”, yang diproduksi pada tahun 1926. Grierson kemudian sangat berperan penting dalam mengembangkan pembuatan film dokumenter di Inggris dan Kanada. Ketertarikan Grierson terhadap film dokumenter karena menurutnya film dokumenter merupakan perlakuan yang kreatif terhadap suatu peristiwa.

Joris Ivens, seorang pembuat film dokumenter kenamaan dari Belanda berpendapat bahwa film dokumenter memiliki kekuatan utama yang terletak pada rasa keotentikannya. Dengan kata lain, film dokumenter bukanlah merupakan suatu cerminan pasif dari kenyataan, melainkan adanya proses penafsiran terhadap kenyataan itu sendiri

Selain jenis faktual dan film dokumenter, di dalam ‘keluarga besar’ film noncerita masih terdapat jenis-jenis lain, seperti film pariwisata, film iklan, film pendidikan, dan lain-lain.

Film Eksperimental

Film eksperimental merupakan film yang proses pembuatannya tidak menggunakan kaidah-kaidah pembuatan film yang semestinya. Misalnya, kaidah-kaidah yang pasti ditemukan dalam setiap pembuatan film cerita maupun film noncerita. Tujuan pembuatan film eksperimental ini biasanya hanya untuk melakukan eksperimentasi-eksperimentasi serta mencari cara-cara penyampaian baru melalui media film.

Film Animasi

Film animasi merupakan film yang dibuat dengan menggunakan atau memanfaatkan gambar-gambar (lukisan) ataupun benda-benda tidak bergerak lainnya. Benda-benda tidak bergerak itu misalnya boneka, baik itu boneka manusia maupun boneka binatang, yang bisa dihidupkan atau digerakkan dengan proses animasi.

Prinsip pembuatan film animasi (teknik animasi) tidak berbeda dengan teknik pembuatan film yang menggunakan subyek benda-benda bergerak atau hidup, yakni memerlukan 24 gambar (bisa juga kurang) perdetiknya dalam menciptakan ilusi gerak.

Kenapa Film Diproduksi? Kebanyakan produser atau pembuat film berpandangan bahwa film merupakan suatu komoditi bisnis yang besar, menggiurkan dan menguntungkan. Karena, setelah selesai diproduksi atau dibuat, maka film (terutama film cerita) bias dibisniskan atau dipasarkan dengan berbagai cara ke publik. Pemasaran film itu ke publik atau masyarakat luas tentu saja dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian dari publik itu sendiri, yang kemudian dari perhatian besar dari publik itu akan dihasilkan suatu keuntungan bisnis. Meskipun begitu, tidak semua produser atau pembuat film yang semata-mata hanya berpikir pada segi bisnis dan keuntungan saja. Sebab tidak sedikit juga produser atau pembuat film yang masih mau mengedepankan dorongan kultural atau idealisme.

Pertimbangan komersial atau bisnis akan terlihat nyata pada film-film cerita. Hal ini terjadi dikarenakan proses pembuatan film cerita memang menggunakan modal yang relatif besar. Kebanyakan produser tentu tidak ingin modal besar yang sudah dikeluarkan untuk proses produksi film tersebut hilang sia-sia. Selain itu bila dilihat dari aspek ekonomi dan teknologi, maka produksi film memang harus dikelola sebagai suatu usaha industri. Hal seperti ini harus dilakukan, karena selain menggunakan atau melibatkan modal yang besar, pembuatan film juga melibatkan tenaga kerja yang banyak. Tenaga-tenaga kerja yang dilibatkan itu pun dari berasal dari berbagai latar belakang keahlian. Disamping itu, kerja produksi film membutuhkan tujuan maupun sistem kerja yang tertata dan jelas, perencanaan yang matang, serta jadwal kerja yang pasti pula. Manajemen kerjanya harus benar-benar rapi dan terkoordinasi. Masing-masing bagian dalam manajemen kerja produksi film tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Bagian satu dengan lainnya saling berkaitan dan berhubungan.

Untuk sampai ke publik, film yang diproduksi harus terlebih dulu melalui suatu proses mata rantai yang panjang. Setelah selesai diproduksi, film terlebih dulu akan dibawa ke bagian distribusi. Bagian distribusi ini bertugas untuk mengedarkan dan memasarkan film tersebut. Setelah di bagian distribusi (peredaran), film kemudian baru masuk ke tahapan pertunjukan di bioskop-bioskop (ekshibisi). Dari proses perencanaan film sampai ke pemutaran di bioskop-bioskop, setidaknya dilibatkan lebih dari 200 profesi pekerja.

Dari para kreator di proses produksi, pengedar film, pembuat poster film, tukang putar film (proyeksionis) sampai ke penjual karcis bioskop. Dalam proses pembuatan film, para produser yang bekerja dengan system industri berusaha membangun studio-studio film. Segala aktivitas pembuatan film, dari pra produksi sampai ke pelaksanaan syuting dan tahap penyelesaian akhir dikerjakan di studio film tersebut.

Mengapa Film Ditonton? Menurut Marseli Sumarno (Dasar-dasar Apresiasi Film), ada tiga alasan mengapa film ditonton, yakni alasan umum, alasan khusus dan alasan utama. Alasan umum – Film berarti bagian dari kehidupan modern dan tersedia dalam berbagai wujud, seperti di bioskop, dalam tayangan televisi, bentuk kaset video, dan piringan laser (laser disc). Sebagai bentuk tontonan, film memiliki waktu putar tertentu. Rata-rata satu setengah jam sampai dengan dua jam. Selain itu, film bukan hanya menyajikan pengalaman yang mengasyikkan, melainkan juga pengalaman hidup sehari-hari yang dikemas secara menarik.

Alasan khusus – Karena ada unsur dalam usaha manusia untuk mencari hiburan dan meluangkan waktu. Selain itu, karena film tampak hidup dan memikat, disamping menonton film dapat dijadikan bagian dari acara-acara kencan dalam kehidupan manusia.

Alasan utama – Seseorang menonton film untuk mencari nilai-nilai yang memperkaya batin. Setelah menyaksikan film, seseorang memanfaatkannya untuk mengembangkan suatu realitas rekaan sebagai bandingan terhadap realitas nyata yang dihadapi. Jadi, seperti kata Marseli, film dapat dipakai penonton untuk melihat hal-hal di dunia ini dengan pemahaman baru.

Unsur – unsur dalam film

Posted by vaynatic under Sinematografi
1 Comment

FILM merupakan hasil karya bersama atau hasil kerja kolektif. Dengan kata lain, proses pembuatan film pasti melibatkan kerja sejumlah unsur atau profesi.

Unsur-unsur yang dominan di dalam proses pembuatan film antaralain: produser, sutradara, penulis skenario, penata kamera (kameramen), penata artistik, penata musik, editor, pengisi dan penata suara, aktor-aktris (bintang film), dan lain-lain.

Biasanya di dalam tim kerja produksi film masing-masing unsur tersebut terbagi dalam departemen-departemen yang disiapkan

Departemen-departemen yang ada di dalam tim kerja film itu meliputi:

Departemen Produksi, Departemen Penyutradaraan, Departemen Kamera, Departemen Artistik, Departemen Editing dan Departemen Suara.

Produser Unsur paling utama (tertinggi) dalam suatu tim kerja produksi atau pembuatan film adalah produser. Karena produserlah yang menyandang atau mempersiapkan dana yang dipergunakan untuk pembiayaan produksi film. Produser merupakan pihak yang bertanggungjawab terhadap berbagai hal yang diperlukan dalam proses pembuatan film. Selain dana, ide atau gagasan, produser juga harus menyediakan naskah yang akan difilmkan, serta sejumlah hal lainnya yang diperlukan dalam kaitan proses produksi film. Dalam kaitan penyediaan naskah, produser bisa mencarinya atau mendapatkan melalui berbagai cara. Misalnya mencari naskah cerita dari penulis, mengambil dari novel, meminta seorang penulis untuk menulisnya, dan sejumlah cara lainnya lagi. Di dalam tim kerja produksi film, produser biasanya sekaligus memimpin Departemen Produksi.

Sutradara Sutradara merupakan pihak atau orang yang paling bertanggungjawab terhadap proses pembuatan film di luar hal-hal yang berkaitan dengan dana dan properti lainnya. Karena itu biasanya sutradara menempati posisi sebagai ‘orang penting kedua’ di dalam suatu tim kerja produksi film. Di dalam proses pembuatan film, sutradara bertugas mengarahkan seluruh alur dan proses pemindahan suatu cerita atau informasi dari naskah scenario ke dalam aktivitas produksi. Sutradara bertanggungjawab menggerakkan semua unsur pekerja (tim kerja) yang terlibat di dalam proses produksi film. Oleh karenanya, berhasil atau tidaknya, bagus atau tidaknya suatu karya film yang diproduksi berada di tangan sang sutradara. Di dalam tim kerja produksi film, sutradara memimpin Departemen Penyutradaraan.

Penulis Skenario

Skenario film adalah naskah cerita film yang ditulis dengan berpegang pada standar atau aturan-aturan tertentu. Skenario atau naskah cerita film itu ditulis dengan tekanannya lebih mengutamakan visualisasi dari sebuah situasi atau peristiwa melalui adegan demi adegan yang jelas pengungkapannya. Jadi, penulis skenario film adalah seseorang yang menulis naskah cerita yang akan difilmkan. Naskah skenario yang ditulis penulis skenario itulah yang kemudian digarap atau diwujudkan sutradara menjadi sebuah karya film. Di dalam menulis naskah skenario, seorang penulis skenario haruslah benar-benar memahami atau menguasai bahasa film. Bahasa film merupakan sarana-sarana yang digunakan dalam menyampaikan pesan cerita atau segala sesuatu yang ada di dalam film itu kepada publik penontonnya. Sarana-sarana yang merupakan bahasa film itu meliputi gambar, space (jangka waktu) dan sound. Namunpun begitu, kemampuan menguasai bahasa film bukanlah satu-satunya syarat yang harus dimiliki oleh seorang penulis. Syarat penting lainnya adalah memiliki kemampuan menjadi seorang penulis cerita. Menurut Prof. Dr. RM. Soelarko, untuk menjadi penulis cerita yang baik diperlukan delapan persyaratan pokok. Ke delapan syarat pokok itu meliputi: penguasaan bahasa; penggunaan bahasa secara efektif; penggunaan logat yang didasarkan atas asal suku bangsa, umur (anak atau orangtua), kelas masyarakat; penggunaan gaya cerita yang mengikat; lukisan tipe dari figur-figur pemerannya; lukisan watak (karakterisasi) dari figure-figur; tingkah laku dan ucapan, yang dilandasi oleh watak pribadi; uraian tentang mood dan emosi figur-figur pemeran (lihat – Eddy D. Iskandar, Panduan Praktis Menulis Skenario, PT Remaja Rosdakarya, 1999). Penata Kamera (Kameramen)

Penata kamera atau popular juga dengan sebutan kameramen adalah seseorang yang bertanggungjawab dalam proses perekaman (pengambilan) gambar di dalam kerja pembuatan film. Seperti halnya sutradara, kameramen juga mempunyai peran yang sangat penting dalam keberhasilan suatu film yang diproduksi.

Film adalah serentetan gambar yang bergerak dengan atau tanpa suara, baik yang terekam pada film, video tape, video disc, atau media lainnya. Sedangkan bahasa film adalah bahasa gambar. Jadi, film menyampaikan ceritanya melalui serangkaian gambar yang bergerak, dari satu adegan ke adegan lainnya, dari satu emosi ke emosi lain, dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain.

Faktor utama dalam film adalah kemampuan gambar bercerita kepada publik penontonnya. Karena itu, seorang penata kamera atau kameramen dituntut untuk mampu menghadirkan cerita yang menarik, mempesona dan menyentuh emosi penonton melalui gambar demi gambar yang direkamnya di dalam kamera. Di dalam tim kerja produksi film, penata kemera memimpin Departemen Kamera. Penata Artistik Penata artistik (art director) adalah seseorang yang bertugas untuk menampilkan cita rasa artistik pada sebuah film yang diproduksi.

Sebelum suatu cerita divisualisasikan ke dalam film, penata artistik setelah terlebih dulu mendapat penjelasan dari sutradara, segera membuat gambaran kasar adegan demi adegan di dalam sketsa, baik secara hitam putih maupun berwarna. Tugas seorang penata artistik di antaranya menyediakan sejumlah sarana seperti lingkungan kejadian, tat arias, tata pakaian, perlengkapan-perlengkapan yang akan digunakan para pelaku (pemeran) film dan lainnya. Tugas penting penata artistik yang tidak bisa diabaikan termasuk menggoda atau menghadirkan khayal penonton ke suatu dunia yang indah, menarik dan fantastis.

Di dalam tim kerja produksi film, penata artistik memimpin Depertemen Artistik. Penata Musik Film dan musik merupakan dua hal yang memang seperti tidak bisa dipisahkan. Tidak jarang, film menjadi populer atau terkenal karena illustrasinya musiknya yang menarik.

Penata musik adalah seseorang yang bertugas atau bertanggungjawab sepenuhnya terhadap pengisian suara musik tersebut. Seorang penata musik dituntut tidak hanya sekadar menguasai musik, tetapi juga harus memiliki kemampuan atau kepekaan dalam mencerna cerita atau pesan yang disampaikan oleh film. Dengan kemampuannya maka ia akan mampu memilih musik yang tepat atau sesuai dengan alur cerita film. Illustrasi musik akan membuat adegan-adegan atau dialog-dialog di dalam film semakin mampu berkomunikasi dan dihayati oleh penonton. Illustrasi musik akan semakin membuat perasaan penonton menjadi hanyut lebih dalam lagi dengan adegan-adegan film yang ditontonnya. Editor Baik atau tidaknya sebuah film yang diproduksi akhirnya akan ditentukan pula oleh seorang editor yang bertugas mengedit gambar demi gambar dalam film tersebut. Jadi, editor adalah seseorang yang bertugas atau bertanggungjawab dalam proses pengeditan gambar.

Proses pengeditan dilakukan selain untuk membuang adegan-adegan yang tidak perlu, juga untuk menyesuaikan dengan space atau jangka waktu film yang sudah ditetapkan. Meskipun bertanggungjawab sepenuhnya terhadap proses editing, tetapi dalam melaksanakan tugasnya editor tetap harus selalu menjalin komunikasi atau berkoordinasi dengan sutradara. Karena di benak seorang sutradara sejak awal sudah ada penilaian atau pilihan tentang adegan mana yang perlu dan mana yang tidak terlalu penting. Bagian yang tidak penting itulah yang nantinya akan disingkirkan oleh editor.

Sebelum masuk ke dalam laboratorium untuk proses akhir, film yang diproduksi itu harus terlebih dulu singgah ke meja editing. Di dalam tim kerja film, editor memimpin Departemen Editing.

Pengisi dan Penata Suara Pengisi suara adalah seseorang yang bertugas mengisi suara pemeran atau pemain film. Jadi, tidak semua pemeran film menggunakan suaranya sendiri dalam berdialog di film. Penata suara adalah seseorang atau pihak yang bertanggungjawab dalam menentukan baik atau tidaknya hasil suara yang terekam dalam sebuah film. Di dalam tim kerja produksi film, penata suara memimpin Departemen Suara.

Bintang Film (Pemeran) Bintang film atau pemeran film dan biasa juga disebut aktor dan aktris adalah mereka yang ‘membintangi’ film yang diproduksi dengan memerankan tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita film tersebut. Keberhasilan sebuah film tidak bisa lepas dari keberhasilan para aktor dan aktris dalam memerankan tokoh-tokoh yang diperankan sesuai dengan tuntutan skenario (cerita film), terutama dalam menampilkan watak dan karakter tokoh-tokohnya.

Mengenal dan Memahami film

Posted by vaynatic under Sinematografi
Leave a Comment

FILM yang ditemukan pada akhir abad ke-19 dan terus berkembang hingga hari ini merupakan ‘perkembangan lebih jauh’ dari teknologi fotografi. Perkembangan penting sejarah fotografi telah terjadi di tahun 1826, ketika Joseph Nicephore Niepce dari Perancis membuat campuran dengan perak untuk membuat gambar pada sebuah lempengan timah yang tebal.
Teknologi fotografi tidak berhenti sebatas penemuan Niepce itu. Tapi dari tahun ke tahun terus mengalami perkembangan yang mengagumkan. Salah satu dari perkembangan mengagumkan dari teknologi fotopgrafi itu adalah munculnya rintisan penciptaan film atau gambar hidup. Tokoh penting dalam rintisan penciptaan film atau gambar hidup itu Thomas Alva Edison dan Lumiere Bersaudara.
Thomas Alva Edison (1847-1931) seorang ilmuwan Amerika Serikat penemu lampu listrik dan fonograf (piringan hitam). Pada tahun 1887, Edison tertarik untuk membuat alat untuk merekam dan membuat (memproduksi) gambar. Edison tidak sendirian. Ia kemudian dibantu George Eastman. Eastman pada tahun 1884 menemukan pita film (seluloid) yang terbuat dari plastik tembus pandang. Tahun 1891 Eastman dibantu Hannibal Goodwin memperkenalkan satu rol film yang dapat dimasukkan ke dalam kamera pada siang hari.
Alat yang dirancang dan dibuat oleh Thomas Alva Edison itu disebut kinetoskop (kinetoscope) yang berbentuk kotak berlubang untuk menyaksikan atau mengintip suatu pertunjukan. Pertunjukan kinetoskop diperkenalkan pertamakali di New York, Amerika Serikat, tahun 1894.
Lumiere Bersaudara yakni dua kakak-beradik Ausguste Lumiere dan Louis Lumiere dari Perancis merupakan pengagum dan penonton setia kinetoskop. Tapi Lumiere Bersaudara tidak hanya ingin sekadar menjadi pengagum dan penonton. Mereka adalah penonton kreatif. Dari menonton kinestokop itu justru muncul gagasan cemerlang keduanya yaitu membuat pertunjukan untuk alat kinestoskop tersebut.
Keduanya kemudian merancang peralatan baru yang mengkombinasikan kamera, alat memproses film dan proyektor menjadi satu. Lumiere Bersaudara menyebut peralatan baru untuk kinetoskop itu dengan “sinematograf” (cinematographe). Peralatan sinematograf ini kemudian dipatentkan pada tahun 1895. Pada peralatan sinematograf ini terdapat mekanisme gerakan yang tersendat (intermittent movement) yang menyebabkan setiap frame dari film diputar akan berhenti sesaat, dan kemudian disinari lampu proyektor.
Di masa awal penemuannya, peralatan sinematograf tersebut telah digunakan untuk merekam adegan-adegan yang singkat. Misalnya, adegan kereta api yang masuk ke stasiun, adegan anak-anak bermain di pantai, di taman dan sebagainya.
Perkembangan gemilang dalam sejarah perjalanan film ditandai dengan langkah Lumiere Bersaudara yang memproyeksikan pertamakali hasil karya mereka ke hadapan publik pada 28 Desember 1895, di ruang bawah tanah sebuah kafe di Paris. Pada hari itu, publik yang menyaksikannya masuk dengan membeli karcis. Tanggal 28 Desember 1895 itu merupakan hari bersejarah, karena merupakan hari kelahiran bioskop yang pertama di dunia.
Langkah yang dilakukan Lumiere Bersaudara yakni menghadirkan konsep pertunjukan bioskop atau penayangan film ke layar dalam suatu ruangan yang gelap, pelan tapi pasti, terus berkembang ke berbagai penjuru dunia. Sekitar sepuluh tahun kemudian, tepatnya di tahun 1905, tempat pemutaran film (bioskop) yang disebut nickelodeon muncul dan berkembang subur di Amerika Serikat. Film-film awal yang dipertontonkan kepada publik adalah film-film yang waktu putarnya sangat singkat, sekitar 10 menit. Meskipun waktu putar atau tayangnya singkat, tapi film itu sudah menampilkan unsur cerita di dalamnya.
Sekalipun film merupakan kelanjutan dari fotografi, namun keduanya memiliki perbedaan yang hakiki. Foto (karya fotografi) tidak menampakkan ilusi gerak. Sementara film menampilkan ilusi gerak.

Perjalanan Film
Sejak ditemukan, perjalanan film terus mengalami perkembangan besar bersamaan dengan perkembangan atau kemajuan-kemajuan teknologi pendukungnya. Pada awalnya hanya dikenal film hitam putih dan tanpa suara atau dikenal dengan sebutan “film bisu”. Masa film bisu berakhir pada tahun 1920-an, setelah ditemukannya film bersuara. Film bersuara pertama diproduksi tahun 1927 dengan judul “Jazz Singer”, dan diputar pertama kali untuk umum pada 6 Oktober 1927 di New York, Amerika Serikat. Kemudian menyusul ditemukannya film berwarna di tahun 1930-an.
Di awal-awal kehadirannya, film hanya dipandang sebagai karya tiruan mekanis dari kenyataan. Atau sering juga dipandang hanya sebagai sarana untuk memproduksi karya-karya seni yang sudah ada, seperti teater, pertunjukan musik, dan lainnya.
Tokoh-tokoh penting dalam perjalanan awal sejarah film dapat dicatat antaralain nama George Melies (Perancis), Edwin S. Porter (juru kamera Thomas Alva Edison), DW Griffith dari Amerika Serikat, RW Paul dan GW Smith (Inggris).
Dalam perkembangan-perkembangan berikutnya para penggiat film melakukan gerakan menggiring atau berusaha menjadikan film sebagai suatu karya seni. Gerakan-gerakan film seni terus berkembang di Jerman,Perancis, Rusia, Swedia, Italia dan Amerika Serikat sendiri.
Eksistensi film sebagai suatu karya seni semakin diakui setelah seniman-seniman film muncul di banyak Negara. Tokoh-tokoh seniman film itu di antaranya Akira Kurosawa (Jepang), John Ford (AS), Federico Fellini (Italia), Satyajit Ray (India), Ingmar Bergman (Swedia) dan Usmar Ismail (Indonesia).

Jenis Film
Film pada dasarnya bisa dikelompokkan dalam dua jenis atau kategori. Pertama, film cerita (film fiksi). Kedua, film noncerita (film nonfiksi).
Film cerita merupakan film yang dibuat atau diproduksi berdasarkan cerita yang dikarang dan dimainkan oleh actor dan aktris.
Kebanyakan atau pada umumnya film cerita bersifat komersial. Pengertian komersial diartikan bahwa film dipertontonkan di bioskop dengan harga karcis tertentu. Artinya, untuk menonton film itu di gedung bioskop, penonton harus membeli karcis terlebih dulu. Demikian pula bila ditayangkan di televisi, penayangannya didukung dengan sponsor iklan tertentu pula.
Sedangkan film noncerita adalah film yang mengambil kenyataan sebagai subyeknya.
Film cerita dan film noncerita ini dalam perkembangannya saling mempengaruhi satu sama lain, yang kemudian melahirkan berbagai jenis film lainnya yang mempunyai cirri, gaya dan corak masing-masing.

Film Cerita
Film cerita mempunyai berbagai jenis atau genre. Genre diartikan sebagai jenis film yang ditandai oleh gaya, bentuk atau isi tertentu.
Jenis-jenis film tersebut ada yang disebut jenis film drama, film horror, film perang, film musical, film koboi, film sejarah, film komedi, dan film fiksi ilmiah. Meskipun begitu penggolongan jenis film tidaklah kaku atau ketat. Sebab sebuah film dapat saja dimasukkan ke dalam beberapa jenis.
Film cerita yang pertama kali diproduksi di Indonesia, menurut catatan Sinematek Indonesia adalah film berjudul “Loetoeng Kasaroeng” yang dibuat pada tahun 1926. Film cerita pertama ini dibuat oleh G. Kruger, seorang indo-Jerman di Bandung.
Dua nama besar dalam dunia perfilman nasional yang juga disebut sebagai perintis industri film nasional di tahun 1950-an yang telah menghasilkan sejumlah film cerita terkemuka adalah Usmar Ismail dan Djamaludin Malik.
Menurut Marseli Sumarno, setiap pembuat film hidup dalam masyarakat atau dalam lingkungan budaya tertentu, sehingga proses kreatif yang terjadi merupakan pergulatan antara dorongan subyektif dan nilai-nilai yang mengendap di dalam diri. Hasil pergulatan ini akan muncul sebagai karya film (lihat – Dasar-dasar Apresiasi Film, Grasindo).
Karya film, masih menurut Marseli, di satu pihak tetap mengandung subyektifitas, dan dapat menunjukkan gaya atau warna keseniman, di pihak lain bersifat obyektif, yang bisa diapresiasikan oleh orang lain.
Terhadap film cerita yang perlu dilihat adalah sejauhmana pembuat film dapat meramu dorongan subyektif dalam menggunakan bahan dasar berupa cerita. Film cerita lalu dapat diartikan sebagai pengutaraan cerita atau ide, dengan pertolongan gambar-gambar, gerak dan suara.
Jadi, cerita adalah bungkus atau kemasan yang memungkinkan pembuat film melahirkan realitas rekaan yang merupakan suatu alternative dari realitas nyata bagi penikmat atau penontonnya. Dari segi komunikasi, ide atau pesan yang dibungkus oleh cerita itu merupakan pendekatan yang bersifat membujuk atau persuasif.
Akan tetapi, masih menurut Marseli Sumarno, tentu saja cerita bukan segala-galanya dalam produksi film cerita. Terdapat sejumlah unsur lain yang menunjang keberhasilan. Misalnya, para pemain yang mampu tampil meyakinkan, penyuntingan yang mulus, dan penyutradaraan yang jitu.
Dalam pembuatan film cerita, Marseli menekankan pentingnya proses pemikiran dan proses teknis. Proses pemikiran berupa pencarian ide, gagasan, atau cerita yang akan digarap. Sedangkan teknis berupa keterampilan artistic untuk mewujudkan segala ide, gagasan atau cerita menjadi film yang siap ditonton. Karenanya film cerita dapat dipandang sebagai wahana penyebaran nilai-nilai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar